Hello :)

Hello :)
Welcome to Ma Blog :)

Minggu, 24 Februari 2013

Senandung hujan (Cerpen I)


Tulisan asal :D

Ini cerita tentang aku yang sangat suka melihat hujan , tetesan – tetesan hujan itu seakan menggelitikku dan membelai lembut pipiku memaksaku untuk menghitung tetesan tanpa hentinya. Tapi sampai sekarang , aku tidak pernah bisa menghitung pasti banyak tetesan hujan yang turun.
Aku suka hujan, terlebih setelah melihatnya..

Aku tidak tau siapa dia. Asalnya, umurnya, rumahnya, bahkan namanya. Yang aku tau hanya wajah kedinginan dengan bibir bergemeletuk yang tersenyum di bawah hujan. Ia berlari seperti anak kecil bersama salah seorang temannya pada saat itu. Tingkah konyolnya yang agaknya polos tanpa beban terlihat jelas dari sini. Jendela kamarku. Hujan yang tidak berhenti mengguyur tidak menghentikan tingkah konyolnya itu. Beberapa lama kemudian, ia mengeluarkan sesuatu dari tas hitamnya. Kurang jelas aku melihat. Aku menempelkan wajahku di kaca untuk memperjelas penglihatanku. Sampai pipi tembamku terlihat gepeng menyaingi kaca jendela kamarku. Lalu dengan sedikit usaha .. “ Ah, sebuah kamera?” ujarku tak sengaja.  “Mengapa dia mengeluarkan kamera pada saat hujan deras mengguyur seperti ini?” aku berujar dalam diam. Lalu detik berikutnya ia mengelurakan sebuah payung kecil dan memayungi kameranya itu.  Pertama kali aku melihatnya memotret ..
memotret hujan di depan rumahku ..................

Esok harinya, hujan turun lagi. Aku tersenyum dan duduk di tempat favoritku , di dekat jendela dan mulai menghitung tetesan hujan yang turun dan meluncur di jendela kamarku. 7,8,..11...... “deg” Hitunganku terhenti.  Dia ! aku melihatnya, berlari di bawah hujan dan mengeluarkan kameranya. Sekarang kameranya tertuju pada  bunga kertas liar yang terhampar menyaingi rumput hijau tempat aku kecil bermain.

Aku tertawa. Haruskah memotret di bawah hujan ?

Tapi .. aku suka hujan. Sama seperti aku menyukainya. Entah kenapa .. Aku suka hujan ....

********
Aku tidak suka hujan. Karena pada saat hujan, memotret terasa membosankan. Seperti hanya memotret air tanpa makna. Terlebih karena hujan aku tidak dapat melihatnya ....
Aku berlari. Hujan !!!!!!!!!!  Firman yang berjalan di sampingku tidak urung menjadi korban kejahilanku. Rasa bosan karena menunggunya yang tumben tidak terlihat membuatku ingin melampiaskannya dengan menjahili sesorang. Firman kena batunya (hahaha). Aku masih menunggu, hujan juga dengan setia menemaniku menunggu. Kemana gadis yang sering melukis di padang bunga lili itu ? tidak melukiskah ia hari ini ? haah .. aku tidak suka hujan. Terlebih lagi karena aku tidak bisa melihat wajah manis terbalut jilbab panjang itu. Aku sangat tidak suka hujan !!!!

Arrrghhh!! Hujan lagi!! Sudah pasti gadis itu tidak datang dan melukis di padang bunga !! Aku menunggu, siapatahu hujan akan bersahabat denganku sesekali dan mau berhenti sebentar saja agar aku bisa melihat gadis itu melukis. Tapi ternyata .. hujan tidak menyukaiku, sama seperti aku yang tidak menyukainya. Aku terdiam dan mulai bingung. Menutupi rasa bosanku, aku mengeluarkan kamera dan iseng memotret padang lili. Kuncup – kuncupnya yang tersiram hujan tertangkap kameraku. “Lucu..” aku bergumam. Aku memotret lagi .. lagi .. dan lagi ..

Hujan masih mengguyur. Aku benci hujan ...
************
Lanjutannnya besok kalo ada bahan (hahahahahahhaha)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar