Tulisan asal :D
Ini cerita tentang aku yang sangat suka melihat hujan ,
tetesan – tetesan hujan itu seakan menggelitikku dan membelai lembut pipiku
memaksaku untuk menghitung tetesan tanpa hentinya. Tapi sampai sekarang , aku
tidak pernah bisa menghitung pasti banyak tetesan hujan yang turun.
Aku suka hujan, terlebih setelah melihatnya..
Aku tidak tau siapa dia. Asalnya, umurnya, rumahnya, bahkan
namanya. Yang aku tau hanya wajah kedinginan dengan bibir bergemeletuk yang
tersenyum di bawah hujan. Ia berlari seperti anak kecil bersama salah seorang
temannya pada saat itu. Tingkah konyolnya yang agaknya polos tanpa beban
terlihat jelas dari sini. Jendela kamarku. Hujan yang tidak berhenti mengguyur
tidak menghentikan tingkah konyolnya itu. Beberapa lama kemudian, ia
mengeluarkan sesuatu dari tas hitamnya. Kurang jelas aku melihat. Aku
menempelkan wajahku di kaca untuk memperjelas penglihatanku. Sampai pipi
tembamku terlihat gepeng menyaingi kaca jendela kamarku. Lalu dengan sedikit
usaha .. “ Ah, sebuah kamera?” ujarku tak sengaja. “Mengapa dia mengeluarkan kamera pada saat
hujan deras mengguyur seperti ini?” aku berujar dalam diam. Lalu detik berikutnya
ia mengelurakan sebuah payung kecil dan memayungi kameranya itu. Pertama kali aku melihatnya memotret ..
memotret hujan di depan rumahku ..................
memotret hujan di depan rumahku ..................
Esok harinya, hujan turun lagi. Aku tersenyum dan duduk di
tempat favoritku , di dekat jendela dan mulai menghitung tetesan hujan yang
turun dan meluncur di jendela kamarku. 7,8,..11...... “deg” Hitunganku
terhenti. Dia ! aku melihatnya, berlari
di bawah hujan dan mengeluarkan kameranya. Sekarang kameranya tertuju pada bunga kertas liar yang terhampar menyaingi
rumput hijau tempat aku kecil bermain.
Aku tertawa. Haruskah memotret di bawah hujan ?
Tapi .. aku suka hujan. Sama seperti aku menyukainya. Entah
kenapa .. Aku suka hujan ....
********
Aku tidak suka hujan. Karena pada saat hujan, memotret
terasa membosankan. Seperti hanya memotret air tanpa makna. Terlebih karena
hujan aku tidak dapat melihatnya ....
Aku berlari. Hujan !!!!!!!!!! Firman yang berjalan di sampingku tidak urung
menjadi korban kejahilanku. Rasa bosan karena menunggunya yang tumben tidak
terlihat membuatku ingin melampiaskannya dengan menjahili sesorang. Firman kena
batunya (hahaha). Aku masih menunggu, hujan juga dengan setia menemaniku
menunggu. Kemana gadis yang sering melukis di padang bunga lili itu ? tidak
melukiskah ia hari ini ? haah .. aku tidak suka hujan. Terlebih lagi karena aku
tidak bisa melihat wajah manis terbalut jilbab panjang itu. Aku sangat tidak
suka hujan !!!!
Arrrghhh!! Hujan lagi!! Sudah pasti gadis itu tidak datang
dan melukis di padang bunga !! Aku menunggu, siapatahu hujan akan bersahabat
denganku sesekali dan mau berhenti sebentar saja agar aku bisa melihat gadis
itu melukis. Tapi ternyata .. hujan tidak menyukaiku, sama seperti aku yang
tidak menyukainya. Aku terdiam dan mulai bingung. Menutupi rasa bosanku, aku
mengeluarkan kamera dan iseng memotret padang lili. Kuncup – kuncupnya yang
tersiram hujan tertangkap kameraku. “Lucu..” aku bergumam. Aku memotret lagi ..
lagi .. dan lagi ..
Hujan masih mengguyur. Aku benci hujan ...
************
Lanjutannnya besok kalo ada bahan (hahahahahahhaha)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar