Hello :)

Hello :)
Welcome to Ma Blog :)

Sabtu, 08 Maret 2014

Bapak, Terimakasih ..


Ia diam di situ, di atas kursi. Menahan rasa kesalnya. Ia kesal. Sangat kesal pada bapak yang kadang selalu ingin menang dan tak mau mengakui kesalahan. Ia kesal pada bapak yang kadang malah sering tak mengerti. Tak seperti ibu.
Seketika ia merindukan ibunya. Sangat merindukannya. Rasanya tak pantas membanding-bandingkan orang tuamu dengan orang tuamu juga. Tapi inilah yang ia lakukan. Ia diam, rasa kesal yang memuncak membuatnya ingin menangis. Ia tahan air mata yang hampir jatuh itu. Ia kesal.! Sangat kesal.
Ia tahu, bapak sekarang sedang melihat ke arahnya. Ia tahu, sebentar lagi bapak akan berbicara tentang sesuatu yang sepele. Mengalihkan pembicaraan dan memasang wajah biasa seperti tak ada yang terjadi. Dan benar saja. Bapak mulai bertanyya tentang hal-hal yang tidak terlalu penting untuk di tanyakan.Dan ia hannya menjawab dengan anggukan, atau jawaban pendek dan gumaman. Ia masih kesal dan berusaha menahan tangis. Lalu seperti biasa, saat ia seperti ituu.. bapak akan diam, tak bersuara dan pergi ke kamarnya. Ia kesal.. semakin kesal.
Saat ibunya pulang, ia menceritakan semua yang ia rasakan. Berharap mendapat sedikit ketenangan dan dukungan dari ibu. Ia tumpahkan semua rasa kesalnya. Ia katakan “ aku lebih sayang dan nyaman sama ibu” dengan wajah memberenggut.Ibunya hanya tersenyum. Mengelus kepala anaknya yang hampir menangis itu. Lalu ibunya berkata
“Bapakmu tidak seperti ibu nak, kami saling melengkapi dan berusaha menjagamu.Ibu cerewet dan mungkin terang-terangan memperlihatkan kepedulian. Sedangkan Bapakmu marah, sedih, atau khawatir dalam diamnya. Ia tak ingin anaknya tau dan hawatir tentang apa yang ia rasakan. Ingatkah kamu? Biasanya bapak yang akan menggendongmu waktu kecil dulu jika kamu tertidur di depan TV dan menggendongmu ke dalam kamar. Berusaha agar tidak ada seekor nyamukpun yang menggigit anaknya. Saat pulang kantor, hal pertama yang ia tanyakan apakah kamu sudah pulang dan sudah makan. Saat kamu Sekolah Dasar dulu, bapak akan menunggumu beberapa menit sebelum pulang sekolah, takut kamu , anaknya menunggu terlalu lama. Saat belajar sepeda dan kamu tersandung batu lalu terjatuh, ia menggendongmu dan malah berkata “itu batunya yang salah!”. Nak, saat kamu beranjak remaja sekarang, tahukah kamu, bapak mulai khawatir dalam diamnya, saat kamu pulang telat sampai sore hari. Walaupun kamu sudah izin pergi, bapak kadang menunggumu di rumah sambil menonton Tv, dan menunggu sms atau teleponmu yang meminta untuk di jemput, Tahukah kamu nak hampir tiap malam, bapak berbicara tentangmu, masa depanmu kelak, di mana kuliahmu, pekerjaamu, dan bagaimana calon pendamping yang bisa menjagamu. Kami berbeda nak, bapak yang berbicara dalam diam bukan berarti tidak menyayangimu nak.”
Ibunya tersenyum, dengan mata yang hampir basah. Ia tahu, anaknya sekarang beranjak besar dan egonya sudah mulai tumbuh. Ibunya tersenyum melihat Ia, anaknya yang sekarang sedang menahan tangis, menahan rasa bersalah yang membuncah. Lalu di sela senyumnya ibu berkata “saat kau kecil dulu, kau akan dengan bangga berkata “Aku sayang bapak” waktu bapak pulang kantor membawa kaset barbie kesukaanmu nak”.
Ia sekarang terdiam, menahan tangis, menahan rasa bersalah yang semakin membesar,
Terimakasih pak .....

                                                         Cerpen, 8 Maret 2014
                                                          @Urafiqaa

Senin, 09 Desember 2013

Aku Rindu Ibu ..

                Aku menutup layar laptopku . Entah , rasa sesak karena  penat yag bercampur lelah membuatku merasa  menua dengan cepat. Belum lagi orang-orang di sekitarku yang seakan tak mengerti apa yang kumau dan apa maksudku. Mereka yang hanya melihat hasil tanpa melihat proses. Mereka yang hanya ingin menopangku di saat senang tanpa berusaha mendukungku di saat sedih. Mereka dengan senyum palsu dan kebohonga manis yang seakan menjadi  bagian dari dirinya. Bukan lagi topeng yang memisah, tapi sebuah kesatuan. Tidak seperti ibu ..
                Aku melihat layar handphoneku yang menyala. Terlihat ada panggilan masuk di sana. Beberapa kali layar itu menampilkan nama yang sama Tetap tak ku hiraukan. Aku lelah.. penat dengan semua kebohongan yang di paksakan menjadi kenyataan. Dengan gusar ku ambil handphone it. Ingin ku none aktifkan.  9 Desember. Waktu seakan berlalu sangat cepat tanpa di minta. Entah mengapa aku mengingat bulan Desember  saat aku berusia 5 tahun. Lama. Belasan tahun lalu .. Basanya di awal bulan Desember aku mencoba mencari hadiah apa yang akan ku berikanpada ibu pada saat hari ibu. Tanggal berapa itu? Aku lupa. 22 Desember kah ? atau ... 21 Desember? Aku tersenyum.. Dan seiring berjalannya waktu, aku melupakan hal yang ku anggap besar saat masa kanak-kanakku dulu. Seketika rasa sesak mencengkram. Aku rindu ibu .. sangat merindukannya..
                Ibu yang dulu membiarkanku blajar naik sepeda dengan wajah takut tapi tersenyum dan coba meyakinkanku. Ibu yang membiarkanku memanjat pohon mangga yang dengan jahilnya menangkap kupu-kupu aneh warna warni di batangnya, Ibu yang dulu membantuku memotong kuku di jari kiriku saat aku tak bisa menggunakan penjepit kuku itu. Ibu yang saat memotong kukuku dengan urutannya. Jari tengah, lalu jari manis, lalu telunjuk, lalu ? Aku lupa..Padahal aku kecil selalu senang menghafal urutan itu. Ibu yang menceritakan dongeng Kancil dan Buaya sebelum aku tidur siang. Aku ingat, berapaka kalipun ibu mengulang cerita itu, aku tak pernah bosan. Biarpun aku kecil sudah hafal apa yang akan dia katakan saat kancil membohongi buaya dan naik di punggung buaya lalu menjadikannya jembatan. Toh mau hafal atau tidak aku tetap tertidur dengan belaian halus di rambut pndekku dulu. Ibu .. ibu yang .. ibu yang ..
                Terlalu banyak kenangan masa kecil yang entah mengapa menjadi sangat indah sekarang.  Membuat rasa sesak yang mencengkram tadi semakin ketat. Membuatku ingin meneteskan sedikit saja air mata kerinduan. Ibu .. Tahukah ibu ? aku rindu ibu...


Kamis, 21 November 2013

Dalam Diam

                Ia  terduduk, lemas..menyembunyikan kepalanya di dalam pelukan lengannya sendiri. Aku di sini memprhatikannya dalam diam. Sesuatu terjadi? Entah .. seperti biasa. Aku hanya bisa menerka apa yang dia rasakan. Seperti biasa juga aku memperhatikan ia yang tak tahu jika sedang ku perhatikan. Aku memperhatikannya dalam diam. Mencoba mengingat dan menerka apa yang dia rasakana,menerka apa yang membuatnya tertawa, sedih, bingung, panik, dan lainnya. Lalu perlahan, aku mulai menghafal kebiasaannya. Menghafal dalam diam, tanpa tahu dan tanpa susah untuk berharap.
                Aku masih diam di sini. Sekedar untuk bertanya saja rasanya kelu. Aku bertanya dalam diam. Hanya bersuara dalam hati, mendengar dan menjawab sendiri.  Otakku sibuk berpikir apa yang ia rasakan, masalah apa yang membuat wajah manisnya keruh tapi tetap menggemaskan. Mataku sibuk meneliti apakah sebentar lagi ada tetes air mata yang tutun dan membasahi pipi tembamnya, Dan mulutku sibuk bergerak ta kata. Mnggumam, dengan gumaman yang aku tak tahu apa artinya. Gumaman khawatir? Iya. Mungkin ....
                Dan akhirnya, ia tegakkan keplanya. Ya !! Wajah keruhnya itu perlahan beralih menjadi tanpa   expresi. Terlihat rasa lelah yang terukir dan bertengger manis di wajahnya. Apa yang ia lakukan semalam? Kantung mata menghiasi mata sipitnya. Bibir kecilnya sekarang bersungut dan di majukan beberapa senti. Seperti biasa saat ia merasa lelah atau bosan. Ia Telungkupkan lagi kepalanya, Lalu beberapa detik kemudian ia tegakkan lagi. Hah... dengan wajah lelah itu kau masih bisa tampak menggemaskan ? Rasanya ingin mengacak rambutnya. Lucu.
                Saat entah yang keberapa kali ia tegakkan kepalanya, Ia menoleh ke pintu. Pelan – pelan senyum kecil terukir di bibirnya. Secara tak sadar membuatku ikut menoleh ke arah pintu itu. Sosok itu masuk, dan berjalan ke bangkunya. Mengacak sedikit rambutnya, dan membuat senyum di bibirnya mnjadi bertambah lebar sebelum akhirnya senyum itu brubah menjadi tawa lebar tanpa beban. Ya.. sosok itu, selalu bisa membuatmu tertawa...

                Aku tersenyum pahit. Diam dan mentertawakan diriku sendiri. Aku menelungkupkan wajahku seakan ingin menyatu dengan meja. Aku diam,, menikmati kecemburuanku ..

Sabtu, 16 November 2013

Ia Pergi Tanpa Menoleh

Aku diam dan menunggu.  Sambil mengambil lembaran dan mulai menketsa. Kebiasanku . Mensketsa wajah sesorang yang biasa ku tunggu tapi tak tau sedang di tunggu. Aneh, tapi begitulh keadannya. Aku mnunggu dan masih menunggu. Rasanya lama tapi aku menikmatinya.
Diam, mengira- ngira kapan diakan datang. Sampai akhirnya sketsaku kan selesai dengan wajah berbayang hitam putih bekas serpihan pensil dan hapusan yang tak bersih. Aku diam dan menunggu. Lagi ..
Dia.. Datang .. duduk beberapa meter di dekatku, dan menatap lurus ke depan. Tak menoleh. Mengerjakan sesuatu yang aku tak tahu itu apa. Tapi aku menikmatinya, diam sini.  Duduk bersama di tempat yang sama dan melihat satu atap yang sama. Senang. Dalam diam. Tak tersentuh. Seperti aku yang sibuk untuk diam dan meredakan debar hati, sama sibuknya seperti dia yang diam menatap lurus tak menoleh. Rasanya, pekerjaan yang di lakukan lebih bergharga daripada apapun di skitarnya. Sama seperti aku yang sibuk menerka detik keberapa ia kan menoleh ke sini ke arahku. Lalu sampai hitungan detik entah keberapa ratus, ia bangkit, merapikan sedikit ujung kemejanya yang kusut. Bangkit, dan ia berjalan pergi. Tanpa menoleh.
Tak Pernah menoleh ...

Jumat, 15 November 2013

Jika Air Mata Bisa Habis ...

                Jika air  mata bisa habis, lalu siapa yag akan menemani rasa sesak yang keluar? Jika air mata bisa habis, lalu bagaimana mengungkapkan rasa sesak yang teramat sangat? Jika air mta bisa habis, lalu apa yang akan menjadi lambang kekuatan yag terlalu letih untuk di tahan ? Beberapa kali, ia bertanya Jika saja air mata bisa habis. Tapi ia tak pernah tau jawabannya. Tak pernah tau apa yang terjadi. Ia berteman dengan air mata. Air mata letih yang keluar karena tau ia terlalu lelah berthan dengan sesak.
            Ia terdiam,menuliskan beberapa kalimat yang sama “Jika Air Mata Bisa Habis” semakin lama ia menulis kalimat yang sama, semakin bingung ia kan menjawab. Ia selalu seperti ini. Saat ia tak bisa menahan air matanya yang memberontak keluar, Ia selalu memikirkan pertanyaan yang tak ia tak pernah tau jawabannya itu.
            Ia terrdiam. Mengapa saat ia menangis  ia terlalu letih menghitung tetesan sesak yang keluar bersama puluhan tetes air mata ? Jika Ia bisa menghitung tetesan itu, sudah berapa banyak tetes air mata yang menemani ? tetes hangat yang tersa perih saat kluar. Entah, perih yang asalnya darimana. Ia tak tahu kenapa dan untuk apa menangis. Yang ia tahu, kenapa air mata selalu menemani persaan sesaknya? Tidakkah air mata itu letih untuk keluar? Tidakkah ia ingin diam saja dan berhenti lalu membiarkan rasa sesak itu terasa dan tak berkawan?
            Ia masih menangis, saat bunyi ringtone tanda pesan singkat masuk ke handphonennya. Pesan singkat. “Sedang apa?” Ia menahan isaknya. Lalu membalas “lg tiduran :D hehe..kenapa?”. Lalu ia lanjtkan lagi tangisnya.  Mengapa saat tetes air mata itu keluar, iatak bisa jujur dan berkata “sedang menangis” ? Akankah tetes air mata itu mengajarkan kebohongan ? atau ia berusaha ntuk menemani tanpa terlihat? 

            Ia menangis.. masih menangis. Tapi kali ini sambil tersenyum. Iamenulis kalimat itu lagi  “Apakah airmata bisa habis?” lalu ia tulis beberapa kalimat sebagai jawaban. Ia sudah tau jawabnnya. “Untuk apa bertanya ? aku tau tau air mata kan selalu ada. Menemani rasa sesak yang terlalu letih atau rasa riang yang membuncah.”

            Lalu menurutmu, apakah air mata bisa habis ?? 

Selasa, 10 September 2013

Sedikit Cerita tentang Kenangan


Aku membuka sedikit album  account sosial lamaku. Menelitinya sedikit demi sedikit, tertawa dan kadang bingung dengan apa yang aku lakukan  dengan teman – temanku dulu..  Gaya ku yang dulu ku pikir ngtren sekarang malah terlihat aneh dan konyol di mataku.  “Labil” . Begitu kataku dalam hati sambil tersenyum.. Melihat apa yang dulu dengan polos ku kerjakan membuatku merindukan banyak hal..  Banyak ...
Jemariku berlanjut meggerakkan mouse. Ku klik gambar pesan. Entah berapa pesan yang terdapat di dalamnya. Pesan yang ku lihat pertama adalah pesan – pesan lucu yang membuatku merasa aneh dan geli. Entah apa yang ku bicarakan dengan sahabat-sahabku itu dulu.. Di tambah tulisan yang sedikit aneh ..  Aku tertawa dan mencoba mengingat – ingat. Aku semakin menggerakkan roll itu ke bawah. Sembari tertawa saat ada beberapa kejadian lucu yang ku ingat saat membuka pesan – pesan lama itu ..
Hingga akhirnya, tak terasa muncul sebuah nama yang tak asing. Sedikit ragu ku klik tombol “open”. Ada rasa sedikit sesak saat membukanya. Tulisan – tulisan itu, emot lucu khas remaja juga menghiasi pesan yang kukirim  atau pesan yang ia kirim. Tidak butuh waktu lama untuk mengingat apa yang kami bahas. Karena aku selalu mengingat hampir semua detail sekeping cerita ini .. Caranya menulis namaku dan berapa titik yang dia gunakan saat ingin menggambarkan wajahnya yang memelas di sana. Atau berapa tanda seru yang dia gunakan saat menegaskan dirinya yang sedang marah atau kesal karena apa yang aku lakukan.  Air mataku sudah tergenang dan  memaksa untuk keluar. Tapi entah kenapa tetesan – tetesan yang sudah mengumpul itu masih tertahan dan tak jadi turun. Beberapa tulisan kecil itu membuatku tersenyum.. Entah, aku tersenyum untuk apa.
Aku berjalan mundur sampai tulisan itu kosong dan tak muat untuk di tampilkan. Dan akhirnya aku kembali ke pesan terbaru yang terkirim. Beberapa tahun lalu.. Aku merasakan sesak yang mulai merambat. Ingin menangis.. tapi apakah berguna? Aku tersenyum.  Tanganku dengan cepat menggerakkan mouse dan menekan tombol delete pada pesan itu. Itu masa laluku bukan? Walaupun aku berharap bisa memasukkan sedikit saja kenangan itu ke dalam kantong sakuku, tetap saja terkadang kantong itu terlalu penuh dan berganti dengan kenangan- kenangan baru. Aku pastiu bisa berjalan ke depan. Tanpa menoleh ke belakang tapi mungkin bisa melirik ke belakang.
Aku  membuka account blog dan ingin menuliskan sesuatu.  Ingin ku tuliskan sebuah cerita hari ini yang mungkin sama dengan ceritamu. Lalu, jariku bergerak mengetik huruf – huruf di keybord. Dan mulai menulis.. beberapa paragraf sampai akhirnya aku tersadar belum menuliskan judulnya.. lalu ku ketikkan beberapa kalimat .... “Halo masa lalu, bolehkah aku menyapamu sedikit? Kadang aku ingin membawamu sejumput dan ku sembunyikan di dalam sakuku agar tidak ada yang bisa mengganggu dan membuat titik – titik kenangan itu hilang. Tapi aku akan berjalan terus ke depan .. dan saat aku lelah aku akan menoleh sebentar tapi tak akan melagkah mundur. Aku membawa kepingan rindu dan mungkin akan ku rangkai dengan beberapa lem cerita.Aku akan terus berjalan maju. ”
Lalu aku menulis judul dan mngklik tombol “posting” ...

oke, ini ceritanya agak ga jelas -_-

Senin, 08 April 2013

ABANG , GUE SAYANG LO :) (CERPEN)


“Dimana lo?” terlihat dua kata dan satu tanda tanya dalam pesan pendek yang baru gue buka. Jangan kira itu dari temen ataupun pacar yang nanyain keberadaan gue. Itu dari Rey. Lo tau siapa ? kakak cowok yang selalu pengen tahu urusan – urusan gue. Setelah dengusan pendek, gue  mengempaskan hanphone biru muda itu ke dalam tas. Kesal. Gue selalu berharap punya kakak cowok kaya Fany yang keren, pinter, dan gapernah terlalu ngecampurin urusan adek perempunnya yang sedang menginjak remaja. Atau paling tidak, kaya kakak cowoknya Reta deh, yang baik dan gak sok perhatian tapi tetep keliatan keren. Tapi sayangnya, bunda ngelahirin Rey sebelum gue di lahirin. Cowok nyebelin, kepo, dan sangat sangat nyebelin buat jadi kakak cowok gue. Sejak Bunda sama ayah udah ga ada, gue hanya tinggal bareng Rey. Tiap hari ngelihat dia dan ladenin sikap nyebelinnya udah buat gue pengen banget nyari kos dan tinggal sendiri. Ninggalin Rey bareng sama game – game kesayangannya. Sekilas, orang yang ngelihat Rey mungkin bakal bilang gue punya kakak cowok idaman. Badan Rey yang tinggi dan tegap, ngebuat dia kelihatan macho dan ngayomin. Di tambah lagi, senyumnya ramah dan dia udah punya pekerjaan tetap yang ngebuat dia bisa jadi tulang punggung di keluarga gue yang cuman tinggal 2 orang ini. Kadang, brsyukur juga punya Rey . Tapi, lebih sering keselnya. Di balik cover depan yang mulus, kalian harusnya tau. Gimana cara Rey nyiksaa gue dengan pekerjaan rumah yang ga ada habis2nya. Ngepel, nyapu, masak, nyuci pakaian Rey yang tingginya 2 meter, dan berbagai siksaan lainnya. Rey yang keliatan ideal, punya kebiasaan aneh. Nulis buku harian!! Gue ga habis pikir, ngapain cowok nulisin buku harian bercover merah muda. Ga etis banget ya ? Rey punya kebiasaan aneh yang kedua. Nanyain gue di mana dalam waktu 2 jam sekali. Bahkan, waktu gue balik dari kamar mandi, Rey bisa ngirim pesan pendek dengan dua kata dan satu tanda tanya itu “dimana lo?”. Pernah sekali, gue kesel setengah mampus. Gue langsung jawab “DI JAMBAN! BOKER!” ..
Arloji gue udah nunjukin pukul 10.15 . malem ! Hape gue udah penuh dengan sms dari Rey. Entah sekarang berapa miscall yang udah nangkring dengan cantiknya di layar hp gue. Motor gue mogok, dan gue bingung harus gimana. Gue yang gapunya latar belakang otomotif cuman mangap dan melototin barang beroda 2 di depan gue ini. Bisa aja gue nelfon Rey dan nyuruh dia buat dateng nolongin. Tapi sayangnya, nasip baik lagi gamau deket2 gue. Waktu mau nelfon Rey. Hp gue mati dengan gantengnya. Lupa, gue belum ngecarge itu hp. Jadilah gue di sini, mangap dengan cantiknya. Jalan yang sepi, ngebuat gue agak takut sendiri. Belum lagi perut gue yang bunyi dan minta makan. Takut dan lapar itu kombinasi pas buat otak lo sukses bekerja dengan lambat. Ya, jam 10.50 . Gue masih di sini, ga bergerak sejengkalpun.Lalu, otak gue yang koneksinya agak lambat, mulai konek. Gue ngegeret itu barang beroda 2 .. terus.. terus.. sampai akhirnya, gue nyampe di jalan raya. Kaki gue yang perih dan agak panas karena di paksa jalan entah berapa kilometer, minta di perhatiin. Gue akhirnya berinisiatif untuk ngebuka sepatu yang gue pakai. Waktu gue nunduk dan jongkok berapa lama , gue denger suara klakson .. dan akhirnya.. MATI LAMPU. GELAP. Dan gue ga ngerasain apa2 ..
Gatau jam berapa, gue bangun dengan rasa sakit yang nusuk banget di kening gue. Baru sadar suasana terang di sekitar gue, gue nanya dalem hati “di mana gue?”  belum selese nanya dan ngejawab pertanyaan gue sendiri, gue ngelihat Rey tidur di samping tempet tidur gue. Gue bingung. Ngapain si Rey tidur di kamar gue ? gue elus2 kepala Rey, lalu hitungan berapa detik, gue tarik rambutnya. Rey yang kaget, bangun dan meringis. “Ngapain lo bang? Kamar gue nih!” Rey hanya diam dan ngelihatin gue. Dia bilang “ maafin abang ya ? gabisa jagain kamu ..” lalu gatau kenapa, gue ngerasa baju yang gue pake pelan2 basah. “Lo ngilerin baju gue ya?” kata gue dengan manisnya. Rey hanya diem, dan punggungnya mulai keguncang. “bang? Lo nangis?” ga ada jawaban. Dan gue hanya bisa diem sambil meluk Rey yang gatau kenapa lagi nangis di pundak gue. Tuh kan !!!? kurang aneh apa abang gue !!!!? arggh!!!
********
"Bang ? bunda sama ayah kenapa ? aku hanya bisa terdiam dan melihat Senja yang duduk di sampingku.  Kecelakaan tadi, sudah pasti membuat ayah dan bunda... entah, aku tidak mau memikirkannya. Dan ternyata, fikiran yang tidak mau ku fikirkan tadi terjadi. Aku hanya diam. Melihat Senja yang duduk manis dan memegang buku harian merah mudanya yang di belikan ayah saat ulang tahunnya seminggu yang lalu. Apa yang bisa di lakukan seorang anak laki – laki kelas VII sekolah menengah pertama melihat adik perempuannya menangis dan bertanya tentang soal yang tidak bisa ku jawab? Aku hanya diam, melihatnya, lalu membawanya ke pelukanku, beberapa tetes air turun dari mataku. Aku menangis, Senja mendongakkan kepalanya ke arah wajahku. “Abang kenapa? Siapa yang ganggu ? jangan sedih .. Senja jagain abang ya ?” Lalu ia memelukku, tangisku tidak tertahan. “Senja jagain abang .. jangan nangis lagi..” suara halusnya terdengar di tengah isak tangisku. Aku masih menangis.. tanpa suara ..
Kejadian 10 tahun lalu itu teringat lagi. Melihat senja, satu – satunya adik perempuan sekaligus satu – satunya keluargaku yg masih tersisa terbaring dengan perban di kepalanya membuatku takut. Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padanya. Aku diam, menatap wajahnya yang entah mungkin menyembunyikan rasa sakit. Ingin rasanya mengambil setengah rasa sakitnya dan membawanya ke tubuhku. Saat hpku berdering dan menampilkan satu nomor tidak di kenal, aku langsung mengangkatnya karena mengira Senja yang menelfon. Ternyata ... begitu .., sampai akhirnya aku di sini, dan melihatnya. Aku masih terdiam, aku menangis dalam diam sampai akhirnya aku tertidur karena lelah .
Aku tersentak bangun saat merasakan tarikan pada rambutku. Aku yang masih mengantuk hanya kaget melihat senja yang berkata “Ngapain lo bang? Kamar gue nih!”. Suaranya yang cempreng membuatku tersadar. Mendengarnya berteriak dengan lantang seperti tadi, membuatku lega. Aku langsung memeluknya. Aku menangis, menyimpan rasa takut dan mengeluarkannya bersama tetesan – tetesan air mataku. Sambil memeluknya, aku terisak.. semakin kencang ..
********
                Rey tidur. Setelah mandang dia dengan aneh yang tiba – tiba nangis dan meluk gue, buat gue makin bingung apa yang sebenenya terjadi. Setau gue, gue sekarang di rumah sakit. Rey tidur. Gue yang niat ngejambak dia lagi dan inget tadi  kejadian aneh pas dia nangis, mutusin buat ngurung niat mulia tadi. Rasa lapar yang menjerit , ngebuat mata gue jelalatan ngelihat meja di samping tempet tidur gue. Sampai akhirnya, gue ga sengaja  ngelihat buku harian merah muda Rey. Timbul niat mulia gue yang kedua, dengan susah payah, akhirnya gue berhasil ngambil itu buku harian. Gue buka .
Lembaran pertama
                Nama : Senja Putri Salsabila
                Panggilan : Senja
                Warna kesukaan : Pink
                INI BUKU HARIAN SENJA, POKOKNYA ABANG GABOLEH BUKA !!
Itu tulisan yang gue lihat di lembaran pertama. Gue bingung kenapa ada biodata dan tulisan gue pas masih kecil. Gue ngebuka lembaran ke dua,
2.
                Bunda?  Senja nanyain bunda sama ayah terus.. Rey mau jawab apa ? Rey gatau .. Rey gamau liat Senja nangis lagi ..
3.
                Bunda? Rey dapet beasiswa, Rey bisa ngelanjutin sekolah. Tante Cha juga ngebantuin sekolah Rey sama Senja. Senja masih sering nangis bunda..

16.
                Senja udah mulai suka cowok bunda. Rey gatau mesti gimana, Rey gatau cara nyikapin anak cewek yang suka sama temen cowoknya. Rey kan cowok bunda .. gimana?
17.
                Senja marah sama Rey bunda.. Rey ga kasih dia pergi prom malem minggu. Rey cuman takut, tempet dia prom sama temen2nya itu kawasan rawan. Rey salah?
23.
                Ulang tahun Senja, Rey ngasih jaket. Tapi katanya jaketnya udah ketinggalan zaman. Jaket cewe buat remaja yang kaya gimana sih !?
35.
                Rey kangen bunda sama ayah
45.
                Senja pingsan bunda, salah rey tadi ngebiarin dia jalan dari sekolah sampai rumah. Rey ada rapat. Maaf bunda..
50.
                Kata Senja, dia benci punya kakak cowok kaya Rey yang suka ngatur dan selalu mau tau. Rey marah, tapi rey tau Rey salah.. Rey cuman gamau dia kenapa2.. Maaf bunda..
51
                Senja marah, katanya mau ngekos..
55.
Senja sering pulang malem.
60.
Bunda ? maafin rey, Senja kecelakaan, Rey takut bunda.. Dia masih koma, Rey harus gimana ? kalo ada apa2 rey rela kasih apa yang dokter perluin.. 

Halaaman terakhir yang tertulis, terlihat di tulisannya ada sisa tetesan air mata . Rey? Gue gatau segitu hebatnya kakak yang selama ini gue benci. Ga sadar, tetesan bening turun dari mata gue. Ngerasa bersalah. Gue gatau dia segitu mikirin gue. Adek yang malah benci dia karena ngerasa dia sok ngatur. Gue masih nangis dan gatau mau bilang apa. Sambil nutup mulut biar Rey ga kebangun, gue cuman ngomong dalam hati “Bang ... gue sayang lo,. Maafin gue” ...

cerpenny agak aneh ya ?? -_-