Aku
menutup layar laptopku . Entah , rasa sesak karena penat yag bercampur lelah membuatku
merasa menua dengan cepat. Belum lagi orang-orang
di sekitarku yang seakan tak mengerti apa yang kumau dan apa maksudku. Mereka
yang hanya melihat hasil tanpa melihat proses. Mereka yang hanya ingin
menopangku di saat senang tanpa berusaha mendukungku di saat sedih. Mereka
dengan senyum palsu dan kebohonga manis yang seakan menjadi bagian dari dirinya. Bukan lagi topeng yang
memisah, tapi sebuah kesatuan. Tidak seperti ibu ..
Aku
melihat layar handphoneku yang menyala. Terlihat ada panggilan masuk di sana.
Beberapa kali layar itu menampilkan nama yang sama Tetap tak ku hiraukan. Aku
lelah.. penat dengan semua kebohongan yang di paksakan menjadi kenyataan.
Dengan gusar ku ambil handphone it. Ingin ku none aktifkan. 9 Desember. Waktu seakan berlalu sangat cepat
tanpa di minta. Entah mengapa aku mengingat bulan Desember saat aku berusia 5 tahun. Lama. Belasan tahun
lalu .. Basanya di awal bulan Desember aku mencoba mencari hadiah apa yang akan
ku berikanpada ibu pada saat hari ibu. Tanggal berapa itu? Aku lupa. 22
Desember kah ? atau ... 21 Desember? Aku tersenyum.. Dan seiring berjalannya
waktu, aku melupakan hal yang ku anggap besar saat masa kanak-kanakku dulu.
Seketika rasa sesak mencengkram. Aku rindu ibu .. sangat merindukannya..
Ibu
yang dulu membiarkanku blajar naik sepeda dengan wajah takut tapi tersenyum dan
coba meyakinkanku. Ibu yang membiarkanku memanjat pohon mangga yang dengan
jahilnya menangkap kupu-kupu aneh warna warni di batangnya, Ibu yang dulu
membantuku memotong kuku di jari kiriku saat aku tak bisa menggunakan penjepit
kuku itu. Ibu yang saat memotong kukuku dengan urutannya. Jari tengah, lalu
jari manis, lalu telunjuk, lalu ? Aku lupa..Padahal aku kecil selalu senang
menghafal urutan itu. Ibu yang menceritakan dongeng Kancil dan Buaya sebelum
aku tidur siang. Aku ingat, berapaka kalipun ibu mengulang cerita itu, aku tak
pernah bosan. Biarpun aku kecil sudah hafal apa yang akan dia katakan saat
kancil membohongi buaya dan naik di punggung buaya lalu menjadikannya jembatan.
Toh mau hafal atau tidak aku tetap tertidur dengan belaian halus di rambut
pndekku dulu. Ibu .. ibu yang .. ibu yang ..
Terlalu
banyak kenangan masa kecil yang entah mengapa menjadi sangat indah sekarang. Membuat rasa sesak yang mencengkram tadi
semakin ketat. Membuatku ingin meneteskan sedikit saja air mata kerinduan. Ibu
.. Tahukah ibu ? aku rindu ibu...