Hello :)

Hello :)
Welcome to Ma Blog :)

Sabtu, 08 Maret 2014

Bapak, Terimakasih ..


Ia diam di situ, di atas kursi. Menahan rasa kesalnya. Ia kesal. Sangat kesal pada bapak yang kadang selalu ingin menang dan tak mau mengakui kesalahan. Ia kesal pada bapak yang kadang malah sering tak mengerti. Tak seperti ibu.
Seketika ia merindukan ibunya. Sangat merindukannya. Rasanya tak pantas membanding-bandingkan orang tuamu dengan orang tuamu juga. Tapi inilah yang ia lakukan. Ia diam, rasa kesal yang memuncak membuatnya ingin menangis. Ia tahan air mata yang hampir jatuh itu. Ia kesal.! Sangat kesal.
Ia tahu, bapak sekarang sedang melihat ke arahnya. Ia tahu, sebentar lagi bapak akan berbicara tentang sesuatu yang sepele. Mengalihkan pembicaraan dan memasang wajah biasa seperti tak ada yang terjadi. Dan benar saja. Bapak mulai bertanyya tentang hal-hal yang tidak terlalu penting untuk di tanyakan.Dan ia hannya menjawab dengan anggukan, atau jawaban pendek dan gumaman. Ia masih kesal dan berusaha menahan tangis. Lalu seperti biasa, saat ia seperti ituu.. bapak akan diam, tak bersuara dan pergi ke kamarnya. Ia kesal.. semakin kesal.
Saat ibunya pulang, ia menceritakan semua yang ia rasakan. Berharap mendapat sedikit ketenangan dan dukungan dari ibu. Ia tumpahkan semua rasa kesalnya. Ia katakan “ aku lebih sayang dan nyaman sama ibu” dengan wajah memberenggut.Ibunya hanya tersenyum. Mengelus kepala anaknya yang hampir menangis itu. Lalu ibunya berkata
“Bapakmu tidak seperti ibu nak, kami saling melengkapi dan berusaha menjagamu.Ibu cerewet dan mungkin terang-terangan memperlihatkan kepedulian. Sedangkan Bapakmu marah, sedih, atau khawatir dalam diamnya. Ia tak ingin anaknya tau dan hawatir tentang apa yang ia rasakan. Ingatkah kamu? Biasanya bapak yang akan menggendongmu waktu kecil dulu jika kamu tertidur di depan TV dan menggendongmu ke dalam kamar. Berusaha agar tidak ada seekor nyamukpun yang menggigit anaknya. Saat pulang kantor, hal pertama yang ia tanyakan apakah kamu sudah pulang dan sudah makan. Saat kamu Sekolah Dasar dulu, bapak akan menunggumu beberapa menit sebelum pulang sekolah, takut kamu , anaknya menunggu terlalu lama. Saat belajar sepeda dan kamu tersandung batu lalu terjatuh, ia menggendongmu dan malah berkata “itu batunya yang salah!”. Nak, saat kamu beranjak remaja sekarang, tahukah kamu, bapak mulai khawatir dalam diamnya, saat kamu pulang telat sampai sore hari. Walaupun kamu sudah izin pergi, bapak kadang menunggumu di rumah sambil menonton Tv, dan menunggu sms atau teleponmu yang meminta untuk di jemput, Tahukah kamu nak hampir tiap malam, bapak berbicara tentangmu, masa depanmu kelak, di mana kuliahmu, pekerjaamu, dan bagaimana calon pendamping yang bisa menjagamu. Kami berbeda nak, bapak yang berbicara dalam diam bukan berarti tidak menyayangimu nak.”
Ibunya tersenyum, dengan mata yang hampir basah. Ia tahu, anaknya sekarang beranjak besar dan egonya sudah mulai tumbuh. Ibunya tersenyum melihat Ia, anaknya yang sekarang sedang menahan tangis, menahan rasa bersalah yang membuncah. Lalu di sela senyumnya ibu berkata “saat kau kecil dulu, kau akan dengan bangga berkata “Aku sayang bapak” waktu bapak pulang kantor membawa kaset barbie kesukaanmu nak”.
Ia sekarang terdiam, menahan tangis, menahan rasa bersalah yang semakin membesar,
Terimakasih pak .....

                                                         Cerpen, 8 Maret 2014
                                                          @Urafiqaa