Ia diam di situ, di atas kursi. Menahan rasa kesalnya. Ia
kesal. Sangat kesal pada bapak yang kadang selalu ingin menang dan tak mau
mengakui kesalahan. Ia kesal pada bapak yang kadang malah sering tak mengerti.
Tak seperti ibu.
Seketika ia merindukan ibunya. Sangat merindukannya. Rasanya
tak pantas membanding-bandingkan orang tuamu dengan orang tuamu juga. Tapi
inilah yang ia lakukan. Ia diam, rasa kesal yang memuncak membuatnya ingin
menangis. Ia tahan air mata yang hampir jatuh itu. Ia kesal.! Sangat kesal.
Ia tahu, bapak sekarang sedang melihat ke arahnya. Ia tahu,
sebentar lagi bapak akan berbicara tentang sesuatu yang sepele. Mengalihkan
pembicaraan dan memasang wajah biasa seperti tak ada yang terjadi. Dan benar
saja. Bapak mulai bertanyya tentang hal-hal yang tidak terlalu penting untuk di
tanyakan.Dan ia hannya menjawab dengan anggukan, atau jawaban pendek dan
gumaman. Ia masih kesal dan berusaha menahan tangis. Lalu seperti biasa, saat
ia seperti ituu.. bapak akan diam, tak bersuara dan pergi ke kamarnya. Ia
kesal.. semakin kesal.
Saat ibunya pulang, ia menceritakan semua yang ia rasakan.
Berharap mendapat sedikit ketenangan dan dukungan dari ibu. Ia tumpahkan semua
rasa kesalnya. Ia katakan “ aku lebih sayang dan nyaman sama ibu” dengan wajah
memberenggut.Ibunya hanya tersenyum. Mengelus kepala anaknya yang hampir
menangis itu. Lalu ibunya berkata
“Bapakmu tidak seperti ibu nak, kami saling melengkapi dan
berusaha menjagamu.Ibu cerewet dan mungkin terang-terangan memperlihatkan
kepedulian. Sedangkan Bapakmu marah, sedih, atau khawatir dalam diamnya. Ia tak
ingin anaknya tau dan hawatir tentang apa yang ia rasakan. Ingatkah kamu?
Biasanya bapak yang akan menggendongmu waktu kecil dulu jika kamu tertidur di
depan TV dan menggendongmu ke dalam kamar. Berusaha agar tidak ada seekor
nyamukpun yang menggigit anaknya. Saat pulang kantor, hal pertama yang ia
tanyakan apakah kamu sudah pulang dan sudah makan. Saat kamu Sekolah Dasar
dulu, bapak akan menunggumu beberapa menit sebelum pulang sekolah, takut kamu ,
anaknya menunggu terlalu lama. Saat belajar sepeda dan kamu tersandung batu
lalu terjatuh, ia menggendongmu dan malah berkata “itu batunya yang salah!”.
Nak, saat kamu beranjak remaja sekarang, tahukah kamu, bapak mulai khawatir
dalam diamnya, saat kamu pulang telat sampai sore hari. Walaupun kamu sudah
izin pergi, bapak kadang menunggumu di rumah sambil menonton Tv, dan menunggu
sms atau teleponmu yang meminta untuk di jemput, Tahukah kamu nak hampir tiap
malam, bapak berbicara tentangmu, masa depanmu kelak, di mana kuliahmu,
pekerjaamu, dan bagaimana calon pendamping yang bisa menjagamu. Kami berbeda
nak, bapak yang berbicara dalam diam bukan berarti tidak menyayangimu nak.”
Ibunya tersenyum, dengan mata yang hampir basah. Ia tahu,
anaknya sekarang beranjak besar dan egonya sudah mulai tumbuh. Ibunya tersenyum
melihat Ia, anaknya yang sekarang sedang menahan tangis, menahan rasa bersalah
yang membuncah. Lalu di sela senyumnya ibu berkata “saat kau kecil dulu, kau
akan dengan bangga berkata “Aku sayang bapak” waktu bapak pulang kantor membawa
kaset barbie kesukaanmu nak”.
Ia sekarang terdiam, menahan tangis, menahan rasa bersalah
yang semakin membesar,
Terimakasih pak .....
Cerpen, 8 Maret 2014
@Urafiqaa