Hello :)

Hello :)
Welcome to Ma Blog :)

Kamis, 21 November 2013

Dalam Diam

                Ia  terduduk, lemas..menyembunyikan kepalanya di dalam pelukan lengannya sendiri. Aku di sini memprhatikannya dalam diam. Sesuatu terjadi? Entah .. seperti biasa. Aku hanya bisa menerka apa yang dia rasakan. Seperti biasa juga aku memperhatikan ia yang tak tahu jika sedang ku perhatikan. Aku memperhatikannya dalam diam. Mencoba mengingat dan menerka apa yang dia rasakana,menerka apa yang membuatnya tertawa, sedih, bingung, panik, dan lainnya. Lalu perlahan, aku mulai menghafal kebiasaannya. Menghafal dalam diam, tanpa tahu dan tanpa susah untuk berharap.
                Aku masih diam di sini. Sekedar untuk bertanya saja rasanya kelu. Aku bertanya dalam diam. Hanya bersuara dalam hati, mendengar dan menjawab sendiri.  Otakku sibuk berpikir apa yang ia rasakan, masalah apa yang membuat wajah manisnya keruh tapi tetap menggemaskan. Mataku sibuk meneliti apakah sebentar lagi ada tetes air mata yang tutun dan membasahi pipi tembamnya, Dan mulutku sibuk bergerak ta kata. Mnggumam, dengan gumaman yang aku tak tahu apa artinya. Gumaman khawatir? Iya. Mungkin ....
                Dan akhirnya, ia tegakkan keplanya. Ya !! Wajah keruhnya itu perlahan beralih menjadi tanpa   expresi. Terlihat rasa lelah yang terukir dan bertengger manis di wajahnya. Apa yang ia lakukan semalam? Kantung mata menghiasi mata sipitnya. Bibir kecilnya sekarang bersungut dan di majukan beberapa senti. Seperti biasa saat ia merasa lelah atau bosan. Ia Telungkupkan lagi kepalanya, Lalu beberapa detik kemudian ia tegakkan lagi. Hah... dengan wajah lelah itu kau masih bisa tampak menggemaskan ? Rasanya ingin mengacak rambutnya. Lucu.
                Saat entah yang keberapa kali ia tegakkan kepalanya, Ia menoleh ke pintu. Pelan – pelan senyum kecil terukir di bibirnya. Secara tak sadar membuatku ikut menoleh ke arah pintu itu. Sosok itu masuk, dan berjalan ke bangkunya. Mengacak sedikit rambutnya, dan membuat senyum di bibirnya mnjadi bertambah lebar sebelum akhirnya senyum itu brubah menjadi tawa lebar tanpa beban. Ya.. sosok itu, selalu bisa membuatmu tertawa...

                Aku tersenyum pahit. Diam dan mentertawakan diriku sendiri. Aku menelungkupkan wajahku seakan ingin menyatu dengan meja. Aku diam,, menikmati kecemburuanku ..

Sabtu, 16 November 2013

Ia Pergi Tanpa Menoleh

Aku diam dan menunggu.  Sambil mengambil lembaran dan mulai menketsa. Kebiasanku . Mensketsa wajah sesorang yang biasa ku tunggu tapi tak tau sedang di tunggu. Aneh, tapi begitulh keadannya. Aku mnunggu dan masih menunggu. Rasanya lama tapi aku menikmatinya.
Diam, mengira- ngira kapan diakan datang. Sampai akhirnya sketsaku kan selesai dengan wajah berbayang hitam putih bekas serpihan pensil dan hapusan yang tak bersih. Aku diam dan menunggu. Lagi ..
Dia.. Datang .. duduk beberapa meter di dekatku, dan menatap lurus ke depan. Tak menoleh. Mengerjakan sesuatu yang aku tak tahu itu apa. Tapi aku menikmatinya, diam sini.  Duduk bersama di tempat yang sama dan melihat satu atap yang sama. Senang. Dalam diam. Tak tersentuh. Seperti aku yang sibuk untuk diam dan meredakan debar hati, sama sibuknya seperti dia yang diam menatap lurus tak menoleh. Rasanya, pekerjaan yang di lakukan lebih bergharga daripada apapun di skitarnya. Sama seperti aku yang sibuk menerka detik keberapa ia kan menoleh ke sini ke arahku. Lalu sampai hitungan detik entah keberapa ratus, ia bangkit, merapikan sedikit ujung kemejanya yang kusut. Bangkit, dan ia berjalan pergi. Tanpa menoleh.
Tak Pernah menoleh ...

Jumat, 15 November 2013

Jika Air Mata Bisa Habis ...

                Jika air  mata bisa habis, lalu siapa yag akan menemani rasa sesak yang keluar? Jika air mata bisa habis, lalu bagaimana mengungkapkan rasa sesak yang teramat sangat? Jika air mta bisa habis, lalu apa yang akan menjadi lambang kekuatan yag terlalu letih untuk di tahan ? Beberapa kali, ia bertanya Jika saja air mata bisa habis. Tapi ia tak pernah tau jawabannya. Tak pernah tau apa yang terjadi. Ia berteman dengan air mata. Air mata letih yang keluar karena tau ia terlalu lelah berthan dengan sesak.
            Ia terdiam,menuliskan beberapa kalimat yang sama “Jika Air Mata Bisa Habis” semakin lama ia menulis kalimat yang sama, semakin bingung ia kan menjawab. Ia selalu seperti ini. Saat ia tak bisa menahan air matanya yang memberontak keluar, Ia selalu memikirkan pertanyaan yang tak ia tak pernah tau jawabannya itu.
            Ia terrdiam. Mengapa saat ia menangis  ia terlalu letih menghitung tetesan sesak yang keluar bersama puluhan tetes air mata ? Jika Ia bisa menghitung tetesan itu, sudah berapa banyak tetes air mata yang menemani ? tetes hangat yang tersa perih saat kluar. Entah, perih yang asalnya darimana. Ia tak tahu kenapa dan untuk apa menangis. Yang ia tahu, kenapa air mata selalu menemani persaan sesaknya? Tidakkah air mata itu letih untuk keluar? Tidakkah ia ingin diam saja dan berhenti lalu membiarkan rasa sesak itu terasa dan tak berkawan?
            Ia masih menangis, saat bunyi ringtone tanda pesan singkat masuk ke handphonennya. Pesan singkat. “Sedang apa?” Ia menahan isaknya. Lalu membalas “lg tiduran :D hehe..kenapa?”. Lalu ia lanjtkan lagi tangisnya.  Mengapa saat tetes air mata itu keluar, iatak bisa jujur dan berkata “sedang menangis” ? Akankah tetes air mata itu mengajarkan kebohongan ? atau ia berusaha ntuk menemani tanpa terlihat? 

            Ia menangis.. masih menangis. Tapi kali ini sambil tersenyum. Iamenulis kalimat itu lagi  “Apakah airmata bisa habis?” lalu ia tulis beberapa kalimat sebagai jawaban. Ia sudah tau jawabnnya. “Untuk apa bertanya ? aku tau tau air mata kan selalu ada. Menemani rasa sesak yang terlalu letih atau rasa riang yang membuncah.”

            Lalu menurutmu, apakah air mata bisa habis ??