Aku diam dan menunggu. Sambil mengambil
lembaran dan mulai menketsa. Kebiasanku . Mensketsa wajah sesorang yang biasa
ku tunggu tapi tak tau sedang di tunggu. Aneh, tapi begitulh keadannya. Aku
mnunggu dan masih menunggu. Rasanya lama tapi aku menikmatinya.
Diam, mengira- ngira kapan diakan datang. Sampai akhirnya sketsaku kan selesai dengan wajah berbayang hitam putih bekas
serpihan pensil dan hapusan yang tak bersih. Aku diam dan menunggu. Lagi ..
Dia.. Datang .. duduk beberapa meter di dekatku,
dan menatap lurus ke depan. Tak menoleh. Mengerjakan sesuatu yang aku tak tahu
itu apa. Tapi aku menikmatinya, diam sini.
Duduk bersama di tempat yang sama dan melihat satu atap yang sama.
Senang. Dalam diam. Tak tersentuh. Seperti aku yang sibuk untuk diam dan
meredakan debar hati, sama sibuknya seperti dia yang diam menatap lurus tak
menoleh. Rasanya, pekerjaan yang di lakukan lebih bergharga daripada apapun di
skitarnya. Sama seperti aku yang sibuk menerka detik keberapa ia kan menoleh ke
sini ke arahku. Lalu sampai hitungan detik entah keberapa ratus, ia bangkit,
merapikan sedikit ujung kemejanya yang kusut. Bangkit, dan ia berjalan pergi.
Tanpa menoleh.
Tak Pernah menoleh ...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar