Hujan ..
Aku bergegas merapikan kanvas dan alat lukisku .. Lau menepi
dan berlari keci mencari tempat berteduh. Di sana, di bawah pohon mahoni di
pinggir padang bunga. Agak susah rasanya memegang kanvas dan menuntun
sepedahku. Kanvasku yang berukuran lumayan lebar tidak cukup ku letakkan di
keranjangnya. Aku bergegas .. panik dan berlari kecil di tengah hujan membuatku
tidak memikirkan sekitarku.
Sesampainya di bawah pohon, aku berusaha melindungi
lukisanku dari tetesan hujan yang terbawa angin lembut. Saking sibuknya, aku
tidak menyadari ada seorang lagi yang terdiam dan melihat ke arahku. Tubuhnya
yang lumayan tinggi membuatku tidak langsung menyadari siapa dia. Saat aku
melihat ke atas, ada wajah lembut dengan rambut basah yang masih meneteskan
sisa sisa air hujan. Ia menunduk .. dan tersenyum..
Ada desiran halus dalam
hatiku. Seakan lupa, aku melihatnya beberapa detik dan tersadar. Dia... Aku
menunduk, tidak sepantasnya aku terlalu lancang melihatnya sedekat ini. Aku
berharap semburat merah muda di pipiku tidak muncul. Antara bingung dan senang,
aku berusaha megusir kupu – kupu yang seakan terbang dalam perutku. Berdua
dengan laki – laki yang tidak terlalu ku kenal membuatku agak risih. Tapi, ada
rasa nyaman yang menyusup nakal dalam benakku. Aku terdiam, Aku sadar.. tidak sepantasnya aku seperti
ini. Aku bergegas mengambil sepedah dan menuntunnya. Aku mengayuh sepedah di
bawah hujan.. kencang ...Mencium aroma basah padang bunga, dan tersenyum sampai
ke rumah... sampai aku tidak sadar , ada sesuatu yang tak sengaja ku bawa ..
pesonanya .. lalu, sekejap kemudian senyum di wajahku hilang. Ada yang
tertinggal ! Aku berlari ke padang bunga ...
*****
Hujan !!!
Aku melihatnya bergegas menuntun sepedahnya ke arah pohon
mahoni itu. Aku laki – laki! Mungkin satu langkah ke depan bisa memberi sedikit
peluangku untuk dekat sedikit saja. Aku berlari dari arah berlawanan menuju
pohon yang sama . Dia sampai deluan. Melihat gerak tangannya yang seakan panik
menutupi lukisannya dari terpaan hujan membuatku tersenyum dan ingin sekali
membantu. Terlihat anggun walau tergesa. Aku bergegas mendekat, sekedar ingin
menyapa. Saat jarakku tinggal beberapa meter saja, ia membalik badan. Menoleh ke
arahku , dan langsung menunduk. Apakah ia membenciku ? Sapaan yang sudah
kusiapkan tadi seakan terbang terbawa angin dan tersapu hujan. Tak berbekas.
Bergani dengan perasaan gugup dan takut. Aku takut membuatnya risih. Aku mundur
erlahan, tapi tetap tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Masih terekan
gerak gerik dan wajahnya yang langsung tertunduk saat melihatku. Aku terbawa
oleh fikiranku sendiri. Saat tersadar, aku sudah melihatnya bergegas menaiki
sepedah yang tadi di tuntunnya. Di bawah hujan, ia mengayuh kencang sepedah
itu. Aku makin percaya. Ia membenciku ... tanpa tahu sebabnya, aku tau ia
membenciku. Sangat membenciku...
Aku terdiam, ingin rasanya berlari dan menyusulnya lalu
bertanya mengapa tidak diam di sini sebentar saja. Sekedar ingin tahu namanya
apakah tidak boleh ? Aku mengehela nafas. Jika aku hanya boleh melihatnya dari
lensa kameraku tanpa bisa menggapainya, aku terima. Yang penting aku tetap bisa
melihatnya. Bergegas pulang, aku melihat selembar kertas. Sketsa wajah
seseorang tampak samping terlihat di sana. Entah wajah siapa. Mungkinkah
lukisan gadis itu ? aku mendekati dan bersiap mengambil sketsa wajah yang
setengahnya sudah tampak berwarna tersebut. Lalu ....
Aku melihatnya ... gadis tadi. Ia berlari menuju pohon ini.
Dan langsung mengambil lukisan itu, mendekapnya seakan lukisan itu mempunyai
sayap dan akan terbang jauh meninggalkannya. Sepenting itukah ? aku bertanya.
Aku tau , tadi sketsa wajah laki – laki. Kekasihnya ? aku bertanya dalam diam. Masih
terkejut dengan kedatanganny tadi , aku berusaha meneliti expresi wajahnya yang
selalu tertunduk itu .. berusaha mengerti apa yang ada dalam benaknya. “
lukisannya penting ya ? kamu suka melukis ? pacar kamu ? “ tanyaku .. sedikit
gugup.. aku sudah siap dengan jawaban yang benar – benar tidak ku inginkan.. Ia
terdiam.. sedetik .. semenit .. dan firasatku bahwa ia membenciku bertambah
kuat. Sampai akhirnya, suara halus tapi tegas terdengar “iya. Penting. Iya. Bukan.
” Singkat tapi cukup menghadirkan desir halus di hatiku. “ kalo bukan pacar ?
siapa ? cowok yang kamu suka ? wah ... kenapa ga di ungkapin aja ? pasti pacar
kamu !” Ia terdiam .. agak lancang rasanya berkata seperti itu. Tapi, aku hanya
ingin menghancurkan sedikit aja jarak yang tercipta. “ bukan ! aku ga mau
pacaran. Aku nunggu laki – laki yang siap jadiin aku satu2nya bidadari di
hidupnya. Yang bisa bimbing aku. Tanpa pacaran , tapi dengan ikatan yang lebih
pasti !” jawbnya. Panjang dan lebih tegas. Ada sedikit getaran yang terasa saat
ia mengucapkannya. “permisi, aku pulang dulu.. hujannya udah reda” masih
terpaku, aku hanya bisa terdiam melihatnya berjalan pelan di tengah padang
bunga. Aku tersadar. Mengambil kamera, dan memotret ia yang sedang berjalan
dengan wajah tertunduknya. Aku tau, ia pasti sedang menunduk. Aku memikirkan
kata – katanya tadi, dan tidak tahu darimana, bertekad ingin menjadikannya
satu2nya bidadari dalam hidupku. Aku berteriak ... “ NAMAKU ELANG BIRU !! KITA BISA KETEMU LAGI !!!???” tak ada
jawaban.. hanya sayup sayup gema suaraku yang terdengar sebagai jawaban. Aku
tersenyum, dan bergegas pulang ...
***
“NAMAKU ELANG BIRU !! KITA BISA
KETEMU LAGI !!!???” terdengar jelas
suaranya yang terbawa angin. Aku tersenyum .. menjawab dalam hati “aku menunggu .....”
Hahahahahahah :D
mikir lagi lanjutannya nyoo~