Hello :)

Hello :)
Welcome to Ma Blog :)

Selasa, 26 Februari 2013

Senandung hujan (capt 3)


Hujan ..


Aku bergegas merapikan kanvas dan alat lukisku .. Lau menepi dan berlari keci mencari tempat berteduh. Di sana, di bawah pohon mahoni di pinggir padang bunga. Agak susah rasanya memegang kanvas dan menuntun sepedahku. Kanvasku yang berukuran lumayan lebar tidak cukup ku letakkan di keranjangnya. Aku bergegas .. panik dan berlari kecil di tengah hujan membuatku tidak memikirkan sekitarku. 
Sesampainya di bawah pohon, aku berusaha melindungi lukisanku dari tetesan hujan yang terbawa angin lembut. Saking sibuknya, aku tidak menyadari ada seorang lagi yang terdiam dan melihat ke arahku. Tubuhnya yang lumayan tinggi membuatku tidak langsung menyadari siapa dia. Saat aku melihat ke atas, ada wajah lembut dengan rambut basah yang masih meneteskan sisa sisa air hujan. Ia menunduk .. dan tersenyum..
  Ada desiran halus dalam hatiku. Seakan lupa, aku melihatnya beberapa detik dan tersadar. Dia... Aku menunduk, tidak sepantasnya aku terlalu lancang melihatnya sedekat ini. Aku berharap semburat merah muda di pipiku tidak muncul. Antara bingung dan senang, aku berusaha megusir kupu – kupu yang seakan terbang dalam perutku. Berdua dengan laki – laki yang tidak terlalu ku kenal membuatku agak risih. Tapi, ada rasa nyaman yang menyusup nakal dalam benakku. Aku terdiam,  Aku sadar.. tidak sepantasnya aku seperti ini. Aku bergegas mengambil sepedah dan menuntunnya. Aku mengayuh sepedah di bawah hujan.. kencang ...Mencium aroma basah padang bunga, dan tersenyum sampai ke rumah... sampai aku tidak sadar , ada sesuatu yang tak sengaja ku bawa .. pesonanya .. lalu, sekejap kemudian senyum di wajahku hilang. Ada yang tertinggal ! Aku berlari ke padang bunga ...

*****
Hujan !!!


Aku melihatnya bergegas menuntun sepedahnya ke arah pohon mahoni itu. Aku laki – laki! Mungkin satu langkah ke depan bisa memberi sedikit peluangku untuk dekat sedikit saja. Aku berlari dari arah berlawanan menuju pohon yang sama . Dia sampai deluan. Melihat gerak tangannya yang seakan panik menutupi lukisannya dari terpaan hujan membuatku tersenyum dan ingin sekali membantu. Terlihat anggun walau tergesa. Aku bergegas mendekat, sekedar ingin menyapa. Saat jarakku tinggal beberapa meter saja, ia membalik badan. Menoleh ke arahku , dan langsung menunduk. Apakah ia membenciku ? Sapaan yang sudah kusiapkan tadi seakan terbang terbawa angin dan tersapu hujan. Tak berbekas. Bergani dengan perasaan gugup dan takut. Aku takut membuatnya risih. Aku mundur erlahan, tapi tetap tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya. Masih terekan gerak gerik dan wajahnya yang langsung tertunduk saat melihatku. Aku terbawa oleh fikiranku sendiri. Saat tersadar, aku sudah melihatnya bergegas menaiki sepedah yang tadi di tuntunnya. Di bawah hujan, ia mengayuh kencang sepedah itu. Aku makin percaya. Ia membenciku ... tanpa tahu sebabnya, aku tau ia membenciku. Sangat membenciku...
Aku terdiam, ingin rasanya berlari dan menyusulnya lalu bertanya mengapa tidak diam di sini sebentar saja. Sekedar ingin tahu namanya apakah tidak boleh ? Aku mengehela nafas. Jika aku hanya boleh melihatnya dari lensa kameraku tanpa bisa menggapainya, aku terima. Yang penting aku tetap bisa melihatnya. Bergegas pulang, aku melihat selembar kertas. Sketsa wajah seseorang tampak samping terlihat di sana. Entah wajah siapa. Mungkinkah lukisan gadis itu ? aku mendekati dan bersiap mengambil sketsa wajah yang setengahnya sudah tampak berwarna tersebut.  Lalu ....

Aku melihatnya ... gadis tadi. Ia berlari menuju pohon ini. Dan langsung mengambil lukisan itu, mendekapnya seakan lukisan itu mempunyai sayap dan akan terbang jauh meninggalkannya. Sepenting itukah ? aku bertanya. Aku tau , tadi sketsa wajah laki – laki. Kekasihnya ? aku bertanya dalam diam. Masih terkejut dengan kedatanganny tadi , aku berusaha meneliti expresi wajahnya yang selalu tertunduk itu .. berusaha mengerti apa yang ada dalam benaknya. “ lukisannya penting ya ? kamu suka melukis ? pacar kamu ? “ tanyaku .. sedikit gugup.. aku sudah siap dengan jawaban yang benar – benar tidak ku inginkan.. Ia terdiam.. sedetik .. semenit .. dan firasatku bahwa ia membenciku bertambah kuat. Sampai akhirnya, suara halus tapi tegas terdengar “iya. Penting. Iya. Bukan. ” Singkat tapi cukup menghadirkan desir halus di hatiku. “ kalo bukan pacar ? siapa ? cowok yang kamu suka ? wah ... kenapa ga di ungkapin aja ? pasti pacar kamu !” Ia terdiam .. agak lancang rasanya berkata seperti itu. Tapi, aku hanya ingin menghancurkan sedikit aja jarak yang tercipta. “ bukan ! aku ga mau pacaran. Aku nunggu laki – laki yang siap jadiin aku satu2nya bidadari di hidupnya. Yang bisa bimbing aku. Tanpa pacaran , tapi dengan ikatan yang lebih pasti !” jawbnya. Panjang dan lebih tegas. Ada sedikit getaran yang terasa saat ia mengucapkannya. “permisi, aku pulang dulu.. hujannya udah reda” masih terpaku, aku hanya bisa terdiam melihatnya berjalan pelan di tengah padang bunga. Aku tersadar. Mengambil kamera, dan memotret ia yang sedang berjalan dengan wajah tertunduknya. Aku tau, ia pasti sedang menunduk. Aku memikirkan kata – katanya tadi, dan tidak tahu darimana, bertekad ingin menjadikannya satu2nya  bidadari dalam hidupku.  Aku berteriak ... “ NAMAKU ELANG  BIRU !! KITA BISA KETEMU LAGI !!!???” tak ada jawaban.. hanya sayup sayup gema suaraku yang terdengar sebagai jawaban. Aku tersenyum, dan bergegas pulang ...
***

“NAMAKU ELANG BIRU !! KITA BISA KETEMU LAGI !!!???”  terdengar jelas suaranya yang terbawa angin. Aku tersenyum .. menjawab dalam hati  “aku menunggu .....”



Hahahahahahah :D mikir lagi lanjutannya nyoo~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar